Senin, 18 Februari 2013

Sinopsis "Roro Jogging"


(langsung copy dari Ms.Word, maap kurang rapi)
Ter-untuk ASTUTY di GANESHA..

Roro Jogging
Tersebutlah kisah dua kerajaan yang memperebutkan tanah kekuasaan, kedua kerajaan tersebut bernama Kerajaan fun jogging dan kerajaan fun jago. Di mana mereka saling menjatuhkan satu sama lain, hingga suatu hari pertumpahan darah pun terjadi. Berliter-liter darah mengucur dari setiap celah tubuh kubu fun jogging dengan fun jago. sang ramahanda pun terbunuh dengan sebilah pedang yang menancap tepat di jantung hatinya oooooooooooo... oleh kesatria rekjos yang dikenal sebagai bandeng bondowoso. Dan dari situlah kisah ini dimulai. :*
###rock###
Roro      :“oooh, ramahanda siapa gerangan yang tega membunuhmu! Jawab rama!!!”
dayang    :“sabar tuan putri badai pastikan berlalu, seiring dengan perkembangan zaman.” (centil)
( roro jogging melihat sosok lelaki yang tak berambut, ia penasaran dengan sosok tersebut, hingga ia menghampirinya..)
Jogging                 : “siapa kau?”
Bandeng bondowoso tak menghiraukannya dan pergi meninggalkan roro jogging.
Seminggu kemudian setelah kematian Ramahanda Roro Jogging, bandeng Bondowoso pergi ke kerajaan Fun jogging untuk mencari tahu keadaan kerajaan fun jogging. Di perjalanan terlihat masyarakat yang sedang jogging pagi-pagi. Salah satunya adalah puteri Roro jogging beserta dayang-dayangnya. Seketika itu roro jogging, mampu mengalihkan dunia bandeng bondowoso. Seakan membuat hati yang telah lama beku, kambali tercairkan oleh paras cantik Rorojogging.
##reggage##

“hay wanita cantik? Siapa sesungguhnya gerangan dirimu?” dengan berteriak dan memandangi rere jogging yang sedang asyik jogging.
Balasnya, “mari berjogging”.
Sambil berjogging, mereka saling berbicara. Dan dari situlah Bandeng mulai tahu, nama Roro Jogging berasal dari kegiatan rutinnya, yakni jogging. Kemudian mereka menceritakan mengenai asal-usul mereka, tanpa mengingat kembali kejadian terdahulu ; perang besar.
“oo..jadi kerajaanmu Fun Jago..?”
“iyah, soalnya banyak ayam jago yang bangunin warga tiap paginya”
“ooh..ayamnya kayak apa?”
“nggatau, tiap dicari, ga ada satu ekorpun ayam jago”
“lho.. serem amat?”
“haha...emang tuh ayam jago konyol, buat candaan wargaku, makannya mereka ga sedih, malah pada fun, makannya dikasih nama Kerajaan Fun Jago”
Hingga mereka saling jatuh cinta tanpa pandang bulu, pandang kumis, pandang rambut, hanya dengan pandang-pandangan saja di dekat kota padang.
“aku suka kamu”sahut Bandeng tiba-tiba.
“Ciyus? Miapah?”
“Mi..likin kamu selamanya”
“Bandeng bisa aja deeech..” Roro tersapu malu oleh tukang sapu.
“maukah kau menjadi isteriku?,” pinta Bandeng.
“hm...aku butuh waktu untuk menjawabnya,” :l
“satu malam saja ya?” :o
“mm...baiklah”. J
“tunggu aku esok pagi di halaman kerajaanmu ya, cantiq”. ;)
Mereka kemudian pulang, dan Bandeng lupa mengenai misinya untuk mencari tahu keadaan kerajaan fun jogging. Justru ia malah mencari isteri, aduh Bandeng..
Sesampainya di kerajaan masing-masing, mereka baru menyadari siapa yang telah diajak mengobrol selama jogging tadi. Roro marah,  kecewa, namun apa daya panah asmara telah menusuknya. Bandeng bingung, namun inilah cinta yang sedang mendomisili kedua insan tersebut.
Malam itu Roro sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mencegah Bandeng agar tidak masuk ke dalam lubuk hatinya yang terdalam. Walau dipanah asmara, ia tetap menegaskan diri bahwa Kerajaan fun jago-lah yang telah membunuh ayahnya. (Roro curhat dengan dayang).
Roro      : Wahai dayang Sumbing, aku galau..
Dayang : Ada apa gerangan wahai Roro ?
Roro      : Bandeng tuh looh..
Dayang : Apa cii?
Roro      : Dia nembaq akuuh..
Dayang : Ooh..  Hah?!! (tiba2 kaget). Bukannya dia yang bunuh ramahanda ??
Roro      : Nah itu dia..
Dayang : Lha trus gimana doonng?
Roro      : Nah makannya aku tanya ke kamu, dayangku .
Dayang : Oh begitu..
Roro      : hmm..
Dayang: Gimana kalo gini aja.. (bisikin roro, roro wajah punya ide)
##musikk##
.keesokan pagi.
“apapun yang terjadi, cinta telah membara, takkan ada unsur apapun dalam bumi ini yang dapat meredamnya!” (tegas Bandeng dalam hati)
Bandeng              : “Selamat pagi tuan putri Jogging”
Roro                      : “I-iya, selamat pagi Bandeng..” Roro ragu.
Bandeng              : “Ada apa gerangan nona cantik? Mengapa tidak seceria hari kemarin?”
Roro                      : “Tidak apa, Bandeng.”
Bandeng              : “Baiklah, sejak semalam, saya menantikan jawaban darimu, adinda.”
Roro                      : “em..iya, akupun semalam merasakan keraguan yang teramat, dalam.”
Bandeng              : “apa gerangan yang membuat dikau ragu? Apakah daku kurang tampan? Atau kurang rupawan?” (sambil gaya)
Roro                      : “bukan begitu..”
Bandeng              : “hartaku bergelimang Nona, kau tak akan sengsara bila kelak menjadi pasangan hidupku.”
Roro                      : “Baiklah..aku mau menjadi isterimu, ta..”
Bandeng              : “ye ye ya yaa!!” (jingkrak-jingkrak seneng)
Roro                      : “tapi..”
Bandeng              : “tapi apa wahai tuan puteri?”
Roro                      : “tapi aku punya saaatu permintaan” (gaya minta ke jin)
Bandeng              : “wani piro?”
Roro                      : “nduwe piro?”
Bandeng              : “nduweni opo wae”
Opo opo . .(gaje)
Roro, “kau harus membuatkanku gedung pencakar langit, sampai langit ke-tujuh agar aku bisa bertemu ayahku, dalam satu malam, kau sanggup?”
Bandeng, “tentu daku sanggup”
#jeng jeng jeng jeng#
Kemudian Bandeng mencari-cari Ki Tong Fang, kawan masa kecilnya yang kini telah sukses membuka semacam warung untuk berobat.
“ohya, aku ingat, waktu aku sakit karena rambutku yang dulu begitu kribo, aku berobat ke Ki Tong Fang. Setelah aku berobat ke Ki Tong Fang, sakit pun hilang, dan rambutku hilang sekejap !”
Bandeng lalu menelpon Ci tong Fang.
Bandeng              :“hallo”
Tong Fang           : “hayya..ini siapa?”
Bandeng              :  “masa kau lupa?”
Tong Fang           : “siapa siapa”
Bandeng              : “ini Bandeng”
Tong Fang           : “Bandung??”
Bandeng              : “Bandeng !!”
Tong Fang           : “Badeg??”
Bandeng              : “budegg!”
Tong Fang           : “budegg??”
Bandeng              : “nah tuh bener..”
Tong Fang           : “oo..Bandeng, haaha. Ada apa ini tilpun owe?”
Bandeng              : “haduh..dasar nini – nini..”
Tong Fang           : “eeh..owe masih cici inih”
Bandeng              : “Iyadeh, Ci Tong Fang, aku butuh bantuan ini” (logat batak)
Tong Fang           : “bantuan apa ini”
Bandeng              : “begini , eh lho kok jadi batak?”
Tong Fang           : “ohya..owe lupa, hahaa”
Bandeng              : “Ci, aku butuh bantuan buat mbangun pencakar langit .”
Tong Fang           : “oohh..keciil..”
Bandeng              : “tapi ini bukan pencakar langit biasa”
Tong Fang           : “bedanya?”
Bandeng              : “ini sampai langit ke-tujuh, dan dikerjakan hanya satu malam!”
Tong Fang           : “oohhh..besar..”
Bandeng              : “aduh..gimana dong ini Ci?”
Tong Fang           : “hayya..panggil saja itu si, kontraktor-kontraktor”
Bandeng              : “ha?? Kontraktror?”
Tong Fang           : “hayya..ini nomer tilpunnya, catat saja.. 081234567..8 satu..dua” (gaya sule, terus jadi senam, ajak penonton)
.Sore harinya.
##intro country##
Bandeng              : “akhirnya aku bisa temukan solusinya, No Solution like Kontraktor!” (gaya promo)
Jin                           : “oo..jadi ini yang namanya Budeg”
Bandeng              : “Bandeeeeeeng!!”
Jin                           : “itu si kata Ci Tong Fang..?”
Bandeng              : “dia yang salah, huu.. Yasudah, langsung saja, tanda tangan sini”
(baca perjanjian: PERJANJIAN. SATU, BANGUN PENCAKAR LANGIT, DUA, SAMPAI LANGIT KETUJUH, TIGA, SELESAIKAN HINGGA MALAM BERAKHIR. *nada Pancasila)
Jin                           : “baiklah”
Bandeng & Jin   : “deal!”
##country##
Tak disangka-sangka ayam berkokok pada jam tersebut.
Bandeng              : “lho..lho..ada apa ini?”
#musik lesung#
Jin                           : “wah..rupanya sudah fajar tuan”
Bandeng              : “selesaikan dulu tugas kalian!”
Jin                           : “tapi perjanjian adalah perjanjian, Tuan”
Bandeng              : “eh..tunggu!”
##ska##
 (diselingin )
Bandeng              : Hey.. kau tlah membohongiku, teganya kau menghianatiku
Roro                      : aku tak  bermaksud.....
(nglanjutin ska, Roro Jogging berlari. Kemudian dikutuk menjadi *pohon)
Bandeng              : Jadi mungkin inilah takdir, yang terbaik untukku.. Dari beribu canda tawa, suka duka, saat bersamanya, beribu kisah, beribu arti, beribu...
##jazz##

  (ENDING)        

2 commentz:

Anonim mengatakan...

saya suka


(astuteee)

Anonim mengatakan...

kalian luar biasaaa <3

Posting Komentar