Minggu, 13 Januari 2013

mari berbahasa yang benar! ╚(•⌂•)╝

(memuat ulang dari suara merdeka)

Ditemukan 25 Kantong Jenazah atau 
Ditemukan Jenazah 
25 Kantong?

Berbahasa, tidak bisa lepas dari logika. Meskipun sesuatu bahasa, secara struktur benar tapi kalau tidak logis, pengguna bahasa akan mengalami kegagalan dalam berkomunikasi. Kita sering memotong pembicaraan secara sepihak, setelah kita merasa kalah dalam adu berargumentasi, dengan mengatakan, berbahasa itu yang penting komunikatif. Kalau lawan bicara sudah memahami apa yang kita maksud maka selesailah masalah.
Kita ambil contoh dalam bahasa Jawa, kalau ada orang mengatakan: pangapunten kulo bade sare rumiyin,  kulo bade dhahar, dan lainnya. Banyak yang berkomentar bahwa cara berbahasa Jawa orang itu salah, sebab dia membahasakan dirinya dengan krama inggil. 
Mengapa orang berani menyalahkan? Jawaban yang  pasti, karena orang itu paham aturan bahasa Jawa.
Sekarang, bagaimana dengan bahasa Indonesia? Sudah benarkah berbahasa Indonesia kita? Kalau kita cermati ternyata banyak cara berbahasa Indonesia kita salah. Sebagai contoh yang terdapat dalam judul tulisan ini. 
Sering kita dengar, ucapkan, bahkan mengajarkan kepada orang lain cara berdoa dengan bahasa yang salah. 1. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku (?). 2. Ya Allah, ampunilah anak-anakku. 3. Ya Allah, ampunilah orang tuaku. 4. Ya Allah, ampunilah para pemimpin bangsaku. 5. Ya Allah, ampunilah anak istriku.
Mari kita mencoba menanyakan makna doa kita itu. Untuk nomor 2-5 , siapa yang (akan) diampuni Allah? Jawabnya, yang (akan) diampuni yaitu anak-anakku, orang tuaku, para pemimpin bangsaku, dan anak striku. Kalau kita ajukan pertanyaan yang sama pada doa nomor satu, maka jawabnya,  kalau kita mau jujur, yang akan diampuni bukan aku, tapi dosa-dosaku. Kesimpulannya,apalah artinya kita berdoa untuk diri sendiri kalau yang diampuni bukan diri kita tetapi dosa-dosa kita?
Demikian pula kalimat yang sangat populer setelah jatuhnya pesawat SSJ 100, yaitu, ”Sampai pagi ini, telah diketemukan 25 kantong jenazah.” Bandingkan dengan kalimat berikut: Tadi pagi saya sarapan 2 bungkus mi, tapi belum kenyang juga. Untuk keperluan pesta, ibu membeli 7 kantong beras. Pertanyaan yang muncul, bagaimana bisa kenyang kalau sarapannya bukan mi tapi hanya bungkusnya saja, meskipun habis 2 atau 15 bungkus.
Kalimat berikutnya, buat apa kantong beras, dan bukan berasnya untuk keperluan pesta? Demikian pula, apalah artinya jika yang diketemukan ternyata hanya kantong jenazah saja meskipun sebanyak 25 dan bukan (potongan) jenazahnya?
Kesimpulannya, marilah kita berbahasa dengan cermat. Bahasa yang tidak membingungkan karena ambigu, atau bermakna ganda. Kalimat-kalimat itu yang benar adalah: Telah ditemukan (potongan) jenazah sebanyak 25 kantong, (bukan 25 kantong jenazah). Tadi pagi saya sarapan mi 2 bungkus (bukan sarapan 2 bungkus mi). Untuk keperluan pesta, ibu membeli beras 7 kantong (bukan 7 kantong beras). Ya Allah, Ampunilah aku (bukan ampunilah dosa-dosaku). ●‿●

0 commentz:

Posting Komentar